Representasi Hubungan Manusia dan Alam dalam Antologi Puisi “Kemarau di Surga” (Analisis Ekokritik Sastra)

Authors

  • Triyani Triyani Universitas Muhammadiyah Bone
  • Muh. Safar Universitas Muhammadiyah Bone
  • Irna Fitriana Universitas Muhammadiyah Bone

DOI:

https://doi.org/10.38035/jpsn.v4i2.653

Keywords:

Representasi, Puisi, Ekokritik Sastra

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan menemukan representasi hubungan manusia dan alam, bentuk kerusakan alam, serta bentuk perlindungan terhadap alam yang terdapat dalam antologi puisi “Kemarau di Surga” berdasarkan analisis ekokritik sastra. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain content analysis. Teknik pengumpulan data menggunakan prosedur telaah pustaka, teknik baca, dan teknik catat. Sementara validasi data menggunakan teknik triangulasi teori dan analisis data menggunakan teknik analisis Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi hubungan manusia dan alam meliputi hubungan yang harmonis dan hubungan yang tidak harmonis. Sementara itu, representasi kerusakan alam berdasarkan analisis ekokritik sastra Greg Garrard meliputi 6 jenis yaitu: pertama, pencemaran (pollution)yang diakibatkan polusi. Kedua, Hutan belantara (wilderness) seperti penebangan secara liar, pembakaran hutan, alih fungsi lahan. Ketiga, bencana (apocalypse) antara lain gempa bumi, tanah lonsor, tsunami, dan gunung meletus. Keempat, Perumahan/tempat tinggal (dwelling) dengan bentuk kerusakan pada perumahan yang dijadikan alih fungsi untuk pendirian bangunan demi kemajuan pembangunan modern yang semu karena merusak alam. Kelima, Binatang (animals) terkait spesies laut yaitu ikan hiu yang terancam punah sebagai akibat praktik shark finning atau perburuan sirip hiu. Keenam, Bumi (earth) seperti aktivitas penambangan. Sementara itu untuk representasi bentuk perlindungan terhadap alam meliputi: pertama, sikap hormat terhadap alam direpresentasikan melalui rasa kagum dan syukur terhadap ciptaan Tuhan, bukan hanya kerena takut pada hukum maupun aturan yang berlaku. Kedua, prinsip tanggung jawab direpresentasikan melalui kesadaran untuk merawat, menghormati, dan tidak merusak alam. Ketiga, sikap solidaritas terhadap alam yang direpresentasikan dalam penentuan sikap dalam kehidupan sehari-hari seperti penolakan terhadap konsumerisme khususnya menu sajian “sup sirip ikan hiu”. Keempat, prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam yang direpresentasikan dengan menerapkan prinsip “cukup”. Kelima, prinsip keadilan yang direpresentasikan melalui menerima alam seutuhnya dalam segala keadaan tanpa syarat dengan segala risikonya.

References

Aisyah, S. (2021). Analisis Ekokritik Sastra pada Novel Dunia Anna Karya Jonstein Garrader. Skripsi. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon.

Asyifa, N. dan Vera Soraya Putri. (2018). Kajian Ekologi Sastra (Ekokritik) dalam Antologi Puisi Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa. Prosiding Seminar Nasional.

Atmazaki. (1990). Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Bandung: Angkasa Raya.

Endraswara, S. (2016). Ekokritik Sastra: Konsep, Teori, dan Terapan. Yogyakarta: Morfalingua.

Endraswara, S. (2016). Metodologi Penelitian Ekologi Sastra Konsep, Langkah, dan Penerapan. Yogyakarta: CAPS.

Hartati, Dian dkk. (2024). Kajian Ekologi Sastra pada Puisi-Puisi Kontemporer di Indonesia. Indonesian Language Education and Literature, Vol. 10, No. 1.

Hasanah, dkk. Analisis Penggunaan Gaya Bahasa pada puisi-puisi karya Fadli Zon. Kembara: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya. Vol. 5, No. 1.

Islamiah, K., Djoko Damono. (2023). Representasi Alam dalam Novel Aroma Karsa Karya Dewi Lestari: Kajian Ekokritik Sastra Greg Garrard. Jolla: Journal of Language, Literature, and Arts. Vol. 3, No.10.

Keraf, Sony. A. (2010). Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Komunitas Kuluwung. 2025. Antologi Puisi Ekologi “Kemarau di Surga”. Garut: Layung

Kusmana, S., Mulyaningsih, dkk. (2021). Pengembangan Bahan Ajar Teks Fabel Bermuatan Kearifan Lokal untuk Pembelajaran Bahasa Indonesia. Sawerigading, Vol. 21, Vol 1.

Kusmana, S., Mulyaningsih, dkk. (2021). Pengembangan Bahan Ajar Teks Fabel Bermuatan Kearifan Lokal untuk pembelajaran Bahasa Indonesia. Sawerigading, Vol. 2, No. 1

Lolangion, Feldy dkk. (2021). Menelaah Antroposentrisme Dalam Menyikapi Krisis Lingkungan dari Perspektif Teologi Penciptaan. Jurnal Ilmiah Tumou Tou. IAKAN Manado, vol. 8, No 1.

Novita, Dewi. (2016). Ekokritik dalam Sastra Indonesia. Addabiyat. Vol 1, No.1

Nurgiyantoro, B. (2013). Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Pres.

Pradopo. 2014. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University.

Putri, Titik S. (2023). Kesederhanaan Cinta dalam Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono. Jurnal Bastra, Vol. 8. No. 4.

Susilo, R. K. D. (2008). Sosiologi Lingkungan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Ton, P., Adon, M. J., Eko, F. X., & Riyanto, A. (2024). Menemukan Harmoni Alam dan Manusia: Kajian Filsafat Lingkungan Hidup A. Sonny Keraf Atas Laudato Si’ Artikel. AMMA: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Vol 3 No.6.

Yulisetiani, S., dan Putra, L. A. (2022). Pengimajian dalam Kumpulan Puisi Dikatakan atau Tidak Dikaitkan itu Tetap Cinta Karya Tere Liye. Literalisasi Vol. 10, No. 01.

Published

2026-06-25

How to Cite

Triyani, T., Safar, M., & Fitriana, I. (2026). Representasi Hubungan Manusia dan Alam dalam Antologi Puisi “Kemarau di Surga” (Analisis Ekokritik Sastra). Jurnal Pendidikan Siber Nusantara, 4(2), 262–274. https://doi.org/10.38035/jpsn.v4i2.653