Dari Zikir Tubuh Menuju Adab Sosial: Akulturasi Spiritualitas Sufi dalam Tari Zapin Melayu

Authors

  • Gunawan Wiradharma Program Studi Ilmu Komunikasi, FHISIP Universitas Terbuka, Indonesia
  • Mario Aditya Prasetyo Pascasarjana Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Indonesia
  • Melisa Arisanty Program Studi Perpusatakaan dan Sains Informasi, FHISIP Universitas Terbuka, Indonesia
  • Khaerul Anam Prodi PGSD, FKIP Universitas Terbuka, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.38035/jhesm.v4i3.772

Keywords:

Akulturasi, Spiritualitas Sufi, Tari Zapin, Adab Sosial

Abstract

Tari Zapin merupakan bentuk seni pertunjukan Melayu yang memperlihatkan kuatnya hubung antara masyarakat Melayu dengan tradisi Arab-Islam. Hubungan tersebut terlihat pada cara Gerak tubuh, repetisi, kostum, dan ruang pertunjukan dimaknai sebagai bagian dari sistem spiritual dan sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses akulturasi spiritualitas Sufi dalam tari Zapin Melayu serta menjelaskan bagaimana unsur-unsur mistik dan transendental yang menekankan adab, kesopanan, keteraturan, dan harmoni kolektif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif melalui studi pustaka dan wawancara dengan seniman, budayawan, serta akademisi yang memiliki pengetahuan mengenai tari Melayu dan tari Sufi. Data diolah melalui analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara tari Sufi dan Zapin tidak terletak pada kesamaan bentuk gerak secara langsung, tetapi pada penggunaan tubuh, ritme, repetisi, musik, dan kostum sebagai media pembentukan pengalaman dan makna. Dalam tari Sufi, repetisi gerak berfungsi sebagai teknologi spiritual menuju ekstase, pelepasan ego, dan kedekatan dengan Tuhan. Dalam Zapin, prinsip tersebut mengalami seleksi, lokalisasi, dan reinterpretasi menjadi mekanisme disiplin tubuh, keteraturan sosial, kesopanan, dan identitas Melayu-Islam. Proses ini disebut sebagai epistemic translation, yaitu penerjemahan pengalaman metafisik Sufi ke dalam kode sosial-estetis Melayu. Dengan demikian, tari Zapin merupakan hasil akulturasi yang mentransformasikan zikir tubuh menjadi adab sosial tanpa sepenuhnya menghilangkan pondasi spiritual Islam.

References

Ali, A. H., & Azura, N. I. S. bt. (2024). Kepentingan Teater Melayu Tradisional Dalam Industri Kreatif. Rumpun Jurnal Persuratan Melayu, 12(2), 70–82.

Berry, J. W. (2019). Acculturation: A Personal Journey Across Cultures. Cambridge University Press.

Dukut, E. M. (2020). Kebudayaan, Ideologi, Revitalisasi dan Digitalisasi Seni Pertunjukan Jawa dalam Gawai (Unika Soeg).

During, J. (2016). Music and Ecstasy in Sufi Culture. Routledge.

Erwany, L. (2020). Perkembangan Tradisi Lisan Mak Yong di Indonesia. Bahterasia: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1(1), 15–23.

Gushevinalti; Suminar, Panji; Sunaryanto, H. (2020). Transformasi Karakteristik Komunikasi di Era Konvergensi Media. Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi, 6(1), 83–100.

Hendra, D. F. (2024). Kajian Dasar bentuk Tari dan Musik Iringan Tari Zapin Penyengat. Jurnal Pendidikan Dan Kajian Seni, 8(2), 114–127.

Hidajat, R., Sayono, J., Hasyimy, M. A., & Ratna, D. (2021). Tafsir Tari Zapin Arab dan Melayu dalam Masyarakat Melayu Tafsir Arabic and Malay Zapin Dance in Malay Society. 4(2), 1266–1273. https://doi.org/10.34007/jehss.v4i2.935

Iskandar. (2017). Zapin Melayu: Sejarah, Fungsi, dan Perkembangannya di Nusantara. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Antropologi. Rineka Cipta.

Kugle, S. A. (2017). Sufis and Saints’ Bodies. University of North Carolina Press.

Kurnia, M. (2016). Tari Tradisi Melayu: Eksistensi & Revitalisasi Seni. Puspantara.

Mahanum, M. (2021). Tinjauan Kepustakaan. ALACRITY: Journal of Education, 1(2), 1–12.

Marzuki, D. I. (2019). Mengungkap Makna Budaya Melayu Deli Dalam Prosesi Perkawinan (Studi Tentang Gagasan Fungsi Pantun dan Tarian dalam Prosesi Perkawinan Melayu). Khazanah: Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan Islam, 9(1), 51–67.

Murgiyanto, S. (2017). Kritik Pertunjukan dan Pengalaman Keindahan. Prodi PSPSR UGM dan Komunitas Senrepita.

Nasr, S. H. (2020). Islamic Art and Spirituality. SUNY Press.

Nasuruddin, M. G. (2000). Teater Tradisional Melayu. Dewan Bahasa dan Pustaka.

Putri, A. Z., Nofiani, J., Saputri, A., Ardiansyah, M., & Maryamah. (2025). Tari Zapin Melayu (Warisan Budaya Asia Tenggara termasuk Pengaruh Hadrami). AL-IMAN: Jurnal Keislaman Dan Kemasyarakatan, 9(2), 712–723.

R, W. S. (2019). Mengenal Kesenian Nasioal 7 Mak Yong (Riau). ALPRIN.

Restian, A. (2017). Pembelajaran Seni Budaya SD: Keanekaragaman Pembelajaran Seni Drama Nusantara dan Mancanegara. UMMPress.

Schechner, R. (2013). Performance Studies: An Introduction. Routlede Taylor & Francis Group.

Schimmel, A. (2000). Mystical Dimensions of Islam. University of North Carolina Press.

Shulha, A. A., & Febri Hendra, D. (2024). Malay Dance in Malay Society. Manatin - the Journal of Economic Management and Business Technology Innovation, 1, 18–25.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta CV.

Takari, M. (2005). KOMUNIKASI DALAM SENI PERTUNJUKAN MELAYU. 1(2), 126–160.

Takari, M., & Dja’far, F. M. (2014). Ronggeng dan Serampang Dua Belas Dalam Kajian Ilmu-Ilmu Seni. USU Press.

Triyani, R., Masunah, J., & Nugraheni, T. (2021). The Uniqueness of Malay Zapin Dance Choreography. Proceedings of the 3rd International Conference on Arts and Design Education (ICADE 2020).

Yasmin, N., Sutrisno, I. H., & Harahap, H. (2020). Rekonstruksi Ronggeng Melayu di Sumatera Utara (1992-2016). Jurnal Ilmu-Ilmu Sejarah, Sosial, Budaya, Dan Kependidikan, 7(1), 33–43.

Yousof, G.-S. (2017). The Mak Yong Dance Theatre as Spiritual Haritage: Some Insights. SEAMEO: Journal of the Regional Centre for Archeology and Fine Arts, 1(1), 1–9.

Zed, M. (2014). Metode Penelitian Kepustakaan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Published

2026-08-15